MENIKAHI JANDA, MENGAPA TIDAK ??
An Nikah, realita, wanita April 11th, 2009
Bagi seorang pria, menikahi janda juga bisa dijadikan pilihan. Apalagi jika ia berniat untuk menyantuni seorang wanita yang tidak lagi bersuami dan anak yatim yang kehilangan kasih sayang seorang ayah. Jika dilakukan dengan ikhlas, semua itu insyaallah akan membuahkan pahala yang besar.
Memang harus diakui, gadis perawan tentu memiliki banyak kelebihan dibandingkan seorang janda. Akan tetapi, janda pun punya satu kelebihan dari perawan, yaitu ia lebih berpengalaman! Ya, karena ia sudah pernah berumah tangga. Dengan begitu, diharapkan dia bisa mengurus rumah tangganya dengan lebih baik.
Jika dulu ia pernah gagal membina keluarga bersama suami pertamanya, maka diharapkan ia bisa belajar dari pengalamannya itu untuk kemudian lebih introspeksi dan memperbaiki diri. Sehingga jika kemudian ia menikah lagi, ia akan berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya, agar tidak karam sebagaimana yang pertama.
Pilih yang Shalihah
Jika ingin menikahi janda, seorang lelaki tetap harus memperhatikan rambu-rambu yang telah diberikan Rasululah n untuk memilih calon istri. Yaitu sebuah hadits yang artinya, “Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa barangsiapa yang memilih karena pertimbangan agama, maka akan mendapatkan kebaikan dan barakah serta terlindung dari berbagai mafsadat. Ini buah dari mulianya akhlak dan kebaikan wanita pilihannya.
Adapun mengenai gambaran akhlak wanita shalihah, adalah yang selalu menyenangkan hati suaminya bila dipandang, selalu taat pada suaminya, tidak pernah melanggar perintahnya serta tidak berkhianat dalam mengelola harta suaminya. Wanita seperti inilah sebaik-baik perhiasan dunia, yang layak dimiliki oleh lelaki yang shalih.
Untuk Para Janda
Untuk para saudariku yang saat ini sudah menjanda, jangan biarkan hati kalian terus-menerus dalam kesedihan. Sungguh, meski sudah tidak punya suami, tetapi kalian masih punya Allah l yang Maha Hidup. Tetaplah menjaga kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah l, karena Allah l berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka bersikap istiqamah, maka akan turun malaikat kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’” (Fushshilat:30)
Berusahalah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dan jagalah akhlak kalian baik di dalam maupun di luar rumah. Sebisa mungkin, kurangilah aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa harus keluar rumah, jangan lupa untuk senantiasa menutup tubuhmu dengan pakaian yang syar’i. Jika mungkin, mintalah salah seorang mahrammu untuk menemanimu. Ingatlah bahwa keanggunan dan kesendirianmu bisa menjadi fitnah bagi lelaki. Karena itu, berhati-hatilah dan jangan lupa berdoa dalam memulai setiap langkahmu.
Jika kamu merindukan kasih sayang seorang suami sebagaimana dulu pernah engkau miliki, maka berdoalah kepada Allah agar memberikan yang terbaik untukmu. Sungguh Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya, akan tetapi engkau pun harus bersabar. Yang terpenting, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah l. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.
ita/Ummu Rumaisha, menuturkan dan mengisahkan…T_T
Terlepas dari semua itu, semua janda-muda harus memikul beban yang tidak mudah, apalagi bila mereka sudah dikaruniai keturunan. Selain harus menghidupi dirinya sendiri, sang janda muda juga harus bisa berdiri tegar untuk menghidupi anak-anaknya.
Sedangkan untuk urusan asmara, janda-muda suka dihadapkan oleh kendala penolakan dari keluarga laki-laki.
Saya sendiri suka menemukan kisah-kisah di mana para janda-muda harus rela patah hati karena keluarga pihak laki-laki menolak kehadiran mereka.
Dari berbagai alasan yang disampaikan, penolakan keluarga laki-laki atas kehadiran seorang janda-muda sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat melihat sosok janda-muda itu sendiri.
Sosok seorang janda muda mau tidak mau sering dikaitkan dengan persepsi “bekas” atau “second hand“. Akibatnya, janda-muda seperti mengalami penurunan kualitas sebagai calon pasangan hidup. Terlebih lagi bila jandanya disebabkan oleh perceraian.
Saya pribadi menolak pandangan seperti ini. Karena seorang janda muda hanyalah seseorang yang memang punya jalan hidup seperti itu, terlepas dari ditinggal mati ataupun karena bercerai.
Ketika seorang wanita muda menjanda, tidak serta merta dia jadi turun kualitasnya, dan bukan pula berarti dia jadi kurang cocok untuk jadi pasangan hidup dibanding dengan wanita-wanita yang masih lajang.
Memutuskan untuk meminang seorang janda muda memang punya kendalanya sendiri. Selain penolakan, kita juga harus mau berbesar hati menerima anak-anaknya, dan mungkin suatu saat harus berhadapan dengan mantan suami juga. Hal-hal seperti inilah yang mungkin dipandang sebagai excess baggage nya janda-muda.
Bagi seorang laki-laki, kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada ketahanan psikologis, fisik dan ketahanan ekonominya.
Namun semua kembali pada pilihan.
Bila sang janda-muda memang bisa memberikan yang selama ini kita cari dan bisa memberikan kedamaian hati, sudah selayaknyalah kita memperjuangkan dirinya untuk dijadikan pasangan yang akan menemani kita sampai hari tua nanti.
bersabarlah dengan kesabaran yang tinggi…wahai ukhti Muslimah yang mengharapkan wajah_NYA
Ingatlah firman Allah, berikut ini :
.” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. “(QS.AZ ZUMAR :39)
Al Hadiid 22
sumber materi : Sakinah.Vol 5,no.10 (Ummu Aslam)



April 11th, 2009 at 7:43 pm
Janda adalah status semata yang sama halnya dengan “menikah”, “tidak menikah”, “duda”, “perjaka”, “perawan” dan kata sandang lainnya yang beredar di masyarakat. Terkadang dalam hidup seseorang harus berhadapan dengan pilihan yang sulit bila masalah akhirnya menyebabkan pernikahannya kandas. Atau ketika kuasa Tuhan bicara lain dari rencana sepasang manusia, dan membuat yang ditinggalkan harus menjalani hidup sendiri. Kalau dalam ajaran agama Islam posisi janda ini diletakkan sedemikian rupa yang harus kita hormati, rasanya tidak adil menempatkan mereka dalam kenegatifan. Dan rasulullah pun beristrikan para janda yang ditinggal suaminya meninggal di medan perang, karena beliau ingin menjaga kehormatan para wanita tersebut dan menjamin masa depan anak-anaknya. Sedangkan dalam mayarakat beberapa dari kita menempatkan seorang janda layaknya obyek tabloid gosip. Rasanya ganjil kalau kita timpang sebelah memberikan cap yang kurang baik pada seorang janda, sedangkan bagi seorang duda, sepertinya hal yang biasa saja.
Ketika kita memutuskan untuk memberikan cap tertentu pada sebuah status, tengoklah kembali siapa diri kita sebenarnya ini. Kenapa kita tidak bisa melihat seseorang karena dia adalah pribadi yang menarik, welas-asih, baik hati atau periang? Kenapa kita tidak bisa mengukur seseorang karena kepandaiannya memasak, merangkai bunga, menata rambut atau kepiawaiannya bermain musik? Apa perlu kita mencampuradukkan status seseorang dengan kemampuannya dalam masyarakat dan memberikan nilai rendah hanya karena dia berbeda? Status, apapun itu, apalagi seorang janda, mestinya membuat kita berpikir keras. Berpikir bagaimana si wanita itu menghidupi keluarganya, kalau dia memiliki anak (anak). Berpikir bagaimana bisa berlaku profesional di kantor, bukannya menyulut gosip-gosip iseng tentang kawan kerja yang seorang janda. Semestinya kita terus belajar dengan berkaca pada orang lain, karena di beberapa hal bisa jadi kita ini lebih beruntung.
April 11th, 2009 at 7:54 pm
Sejauh yang saya tahu, wanita yang menyandang gelar janda suka serba salah. Kalau seorang wanita menjadi janda di usia lanjut, masyarakat biasanya akan lebih memaklumi. Toh setiap pasangan, idealnya akan mengalami hal yang sama.
Tapi ketika seorang wanita muda yang menjadi janda, orang-orang jadi punya kecenderungan untuk memandangnya sebelah mata. Kalau dari sisi laki-laki mungkin banyak dihubungkan dengan hal-hal berbau seksual, seperti melihat sang janda-muda sebagai wanita kesepian. Sedangkan dari sisi perempuan mungkin melihat sang janda-muda sebagai sosok yang fragile.
Seorang wanita bisa menjadi janda hanya dengan dua cara, bercerai atau ditinggal mati sang suami.
Sejauh yang saya tahu, seorang janda-muda yang ditinggal mati suaminya akan diterima lebih baik oleh masyarakat dibanding dengan janda-muda yang datang dari sebuah perceraian.
Alasannya mungkin karena wanita muda yang ditinggal mati suaminya tetap dipandang sebagai sosok yang setia. Namun karena kehendak yang Maha Kuasa dia harus menjanda.
Sedangkan wanita muda yang menjadi janda karena bercerai harus berhadapan dengan berbagai prasangka. Prasangka terburuk yang mungkin dihadapi adalah ketika dia dipandang sebagai wanita yang tidak tahu bagaimana menjadi seorang isteri.
Terlepas dari semua itu, semua janda-muda harus memikul beban yang tidak mudah, apalagi bila mereka sudah dikaruniai keturunan. Selain harus menghidupi dirinya sendiri, sang janda muda juga harus bisa berdiri tegar untuk menghidupi anak-anaknya.
Sedangkan untuk urusan asmara, janda-muda suka dihadapkan oleh kendala penolakan dari keluarga laki-laki.
Saya sendiri suka menemukan kisah-kisah di mana para janda-muda harus rela patah hati karena keluarga pihak laki-laki menolak kehadiran mereka.
Dari berbagai alasan yang disampaikan, penolakan keluarga laki-laki atas kehadiran seorang janda-muda sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat melihat sosok janda-muda itu sendiri.
Sosok seorang janda muda mau tidak mau sering dikaitkan dengan persepsi “bekas” atau “second hand“. Akibatnya, janda-muda seperti mengalami penurunan kualitas sebagai calon pasangan hidup. Terlebih lagi bila jandanya disebabkan oleh perceraian.
Saya pribadi menolak pandangan seperti ini. Karena seorang janda muda hanyalah seseorang yang memang punya jalan hidup seperti itu, terlepas dari ditinggal mati ataupun karena bercerai.
Ketika seorang wanita muda menjanda, tidak serta merta dia jadi turun kualitasnya, dan bukan pula berarti dia jadi kurang cocok untuk jadi pasangan hidup dibanding dengan wanita-wanita yang masih lajang.
Memutuskan untuk meminang seorang janda muda memang punya kendalanya sendiri. Selain penolakan, kita juga harus mau berbesar hati menerima anak-anaknya, dan mungkin suatu saat harus berhadapan dengan mantan suami juga. Hal-hal seperti inilah yang mungkin dipandang sebagai excess baggage nya janda-muda.
Bagi seorang laki-laki, kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada ketahanan psikologis, fisik dan ketahanan ekonominya.
Namun semua kembali pada pilihan.
Bila sang janda-muda memang bisa memberikan yang selama ini kita cari dan bisa memberikan kedamaian hati, sudah selayaknyalah kita memperjuangkan dirinya untuk dijadikan pasangan yang akan menemani kita sampai hari tua nanti.
Predikat janda sering dipandang negatif.
Apalagi jika dialami pada usia masih muda atau lebih dikenal sebagai janda kembang. Bagaimanakah liku-liku kehidupan sosial para janda dan peran mereka sebagai single parent?
Menyandang status janda, apa pun masalahnya, sering dianggap sebagai produk gagalnya perkawinan. Kasus seperti itu tidak dimonopoli salah satu golongan rumah tangga. Siapa pun pasangan suami istri itu, dari mana pun mereka berasal, bila tidak ada lagi komitmen dalam perkawinan, bisa saja terjadi perceraian. Itu berarti pihak perempuan (istri) merugi karena menyandang status janda.
Dalam masyarakat yang masih mengagungkan tingginya nilai perkawinan, perceraian memang membuat pasangan suami-istri mendapat tantangan berat, baik itu dari masyarakat sekitar maupun dari keluarga. Keinginan untuk berusaha melanjutkan hidup setelah dihadapkan pada keretakan rumah tangga, ternyata, juga memiliki dampak sosial yang cukup besar, terutama bagi pihak perempuan. Apalagi statusnya sebagai single parent.
Dalam masyarakat majemuk apalagi yang memandang bahwa sebuah perkawinan yang normal adalah yang terdiri dari suami-istri lengkap, merupakan anggapan kurang ajeg apabila seorang wanita muda sudah menjanda. Anggapan ini akan ditambah lagi bila si wanita tersebut secara fisik bagus menurut masyarakat tadi.
Terlepas karena situasi apa si wanita itu menjanda, kecenderungan masyarakat menempatkan posisi janda sebagai seorang yang konotasinya kurang baik bisa dikatakan hampir selalu ada. Konotasi ini bahkan akan lebih membuat kuping panas, kalau si wanita ini menjanda akibat perceraian.
Mereka juga seakan-akan buta bahwa keadaan menjanda itu bukanlah hal yang mudah apalagi kalau si wanita harus menafkahi keluarganya.
Anggapan lain yang cukup simpang-siur di masyarakat adalah bahwa seorang janda itu cuma boleh menikah dengan seorang laki-laki yang menduda atau kalau pun masih perjaka, bukan yang masih muda lagi. Hal ini bisa saya katakan begini, karena saya lihat sendiri prakteknya di masyarakat.
Seakan-akan suatu hal yang sia-sia, kalau seorang laki-laki muda perjaka ting-ting memilih seorang janda yang mungkin 10 tahun seniornya untuk menjadi istrinya. Kalau si istri ini kaya raya, mungkin orang-orang berusaha mengerti. Tapi kalau si wanita ternyata biasa-biasa saja dan memiliki anak (anak) yang sudah remaja atau dewasa, amat disayangkan keputusan laki-laki ini.
April 29th, 2009 at 7:18 pm
[...] http://kotakarsip.blog.friendster.com/2009/04/menikahi-janda-mengapa-tidak/ [...]
May 6th, 2009 at 5:52 am
Nyunah itu mudah, kok mau dipersusah?
barangsiapa menyelesihi sunnah dia akan binasa
belajarlah dari sebaik-baik manusia, Muhammad SAW
termasuk dalam berumah tangga.
Menikah jika tdk dilandasi dng Lillah, Billah & Fillah niscaya tidak akan Berkah
tidak akan ada ma waddah, wa rachmah, wa sakinah !
Nasihat buat ikhwan yg menjadikan tolak ukur usia dan status sebagai pertimbangan menikah : ” Carilah yg agamanya baik, karena dia bakal mendidik anak2mu ! , dan itu bisa saja didapatkan dari seorang janda” , bukankah seorang janda yg memberikan keturunan pada diri Muhammad SAW ?
Intinya, NyunnaH itu mudah ya akhi, jangan banyak bertingkaH, nanti susaH !
Balas
May 6th, 2009 at 5:53 am
adakah janda yg lancar membaca al-qur’an & fasih berbahasa arab?
ana seorang penuntut ilmu dan menginginkan pendamping yg bisa mengasah ilmu, hatta itu seorang janda.
Lillah, Billah, Fillah
Balas
May 16th, 2009 at 2:44 am
barokallahu fikum
^_^
June 26th, 2009 at 4:43 pm
Assalamu ‘alaikum wr wb.
sebelumnya saya minta maaf kalau sedikit nambahinsampah di blog ini.
saya minta bantuan saran dari rekan semua.
saya lelaki single yang menyukai seorang wanita yang berstatus janda. hubungan kami awalnya baik. dan hubungan ini berlangsung dengan jarak jauh. saya di sumatera dan yang wanita di jawa. orang tua saya mengenai siapa pasangan yang saya pilih mereka tidak turut campur hanya pesan dari keluarga saya pasangan yang saya pilih harus muslimah. hal ini sudah terpenuhi jadi dari keluarga saya tidak ada kendala lagi. umur kami hanya terpaut beberapa hari. sama sama dibulan mei 1976. hanya yang menjadi kendala pertama wanita yang saya sukai merasa tidak yakin dan trauma terhadap pernikahan dimasa lalunya. yang kedua, orang tua wanita baik itu ibu ataupun bapaknya tidak setuju dengan alasan : kalau kemungkinan saya telah memiliki istri, karena saya bukan orang jawa jadi tidak tahu asal usulnya (sedangkan suami dari wanita yang saya sukai adalah orang jawa, orang jawa yang kesumatera mengaku masih sendiri ternyata dijawa sudah punya itupun banyak), saya baru merintis kehidupan di pulau jawa (itupun karena keinginan saya untuk membuktikan bahwa saya serius dan berusaha bertanggung jawab).
mengenai keburukan saya dimasa lalu telah saya ceritakan disaat saya mulai menjalin hubungan dengan wanita tersebut (saya pernah menjadi pemabuk walau sudah lama saya tinggalkan, saya pernah beli perempuan disaat saya mabuk dan itupun hanya satu kali). jadi mengenai kejelekan masa lalu saya bukan menjadi masalah lagi. hubungan kami berjalan baik selama 9 bulan. tetapi 3 bulan terakhir ini (sebulan sebelum saya berangkat kejawa dan 2 bulan selama dijawa sekarang) hubungan dengan anaknya sangat akrab bahkan apabila wanita tersebut ada kegiatan, anaknya dititipkan ke saya. hubungan saat ini sama seperti HTS (hubungan tanpa status). dibilang maju nggak, dibilang putus juga nggak. kalau wanita tersebut mengatakan bahwa dia tidak mencintai saya maka saya terima dan kemungkinan saya kembali kesumatera. tapi ini lain. pada saat saya tanya mengenai perasaan dia bilang dia masih sayang dan berharap saya tinggal dijawa. tapi dalam kenyataan hubungan tanpa kepastian.
sekali lagi saya minta bantuan dari para rekan yang lebih dewasa pemikirannya.
maaf kalau saya tidak menggunakan kata kata “mohon”. karena saya rasa permohonan hanya untuk sang khaliq
October 15th, 2009 at 9:46 pm
permisi,numpang curhat di blog ini. SAaya tertarik dengan topik ini.
Saya adalah seorang janda dengan satu orang anak (usia 3 tahun). Suami saya meninggal 3,5 tahun yang lalu, ketika saya sedang mengandung 4 bulan. Kami disatukan dalam cinta yang Insyaalloh karena mengikuti sunnah rasul, dan kami dipisahkan oleh kuasa Sang Khalik. Sampai saat ini saya belum menikah lagi dan masih tinggal di rumah peninggalan almarhum suami saya. Alhamdulillah, saya mempunyai pekerjaan tetap yang menjamin kelayakan hidup saya dan anak saya. Tapi bukan berarti saya merasa tidak membutuhkan laki-laki. Manusiawi jika saya merindukan kasih sayang tulus yang pernah saya rasakan.Ada keinginan untuk menikah lagi dengan beberapa orang laki-laki yang mencoba mendekati saya. Namun, ada dua ketakutan dalam diri saya. Yang pertama, saya khawatir suami baru tidak sebaik suami terdahulu dalam segi agama, materi dan akhlak. Yang kedua, saya khawatir suami baru saya tidak bisa menyayangi anak saya setulus hatinya karena Alloh. Kedua alasan itulah yang membuat saya masih betah menyendiri meski terkadang terusik untuk cepat menikah karena fitnah mendera saya.
Yang mau saya bagi di forum ini, hendaklah semua pihak jangan memamndang janda sebagai status yang layak untuk dijadikan bahan rumpian, karena itu menyakitkan. Tidak semua janda itu berkonotasi jelek. Sungguh terhina ketika melewati kerumunan orang yang sedang berkumpul, seorang janda dijadikan bahan pembicaraan yang semuanya bermuara ghibah dan fitnah. Saya tahu kultur masyarakat kita ini masih belum modern, tapi alangkah bijaksananya apabila setiap individu mencoba merasai rasa ketika menjadi si janda. Aloohua’lam, siapa yang tahu nasib kita ke depan. Bisa jadi sekarang mencemooh janda, suatu hari akan jadi janda juga. Atau kalua lelaki memandang janda sebagai wanita yang kesepian, suatu saat akan mendapati jodoh yang menyebalkan, Naudzubillahi mindzalik…Jangan saling mencemooh, karena hanya Alloh yang berhak atas segala sesuatu..